Jakarta, WartaTerupdate.Com – Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu negara dengan pengaruh geopolitik terbesar di dunia. Sepanjang sejarahnya, AS tidak hanya memperluas kekuasaan melalui diplomasi dan ekonomi, tetapi juga lewat pencaplokan wilayah. Fakta ini kembali mencuat ketika muncul spekulasi tentang ketertarikan AS terhadap Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang strategis secara geografis dan ekonomi. Lantas, seberapa masuk akal isu tersebut jika melihat sejarah?
Daftar Wilayah yang Pernah Dicaplok Amerika Serikat
Dalam sejarahnya, setidaknya ada delapan wilayah yang pernah berada di bawah kendali atau caplok Amerika Serikat, baik melalui pembelian, perang, maupun perjanjian politik.
- Louisiana beli dari Prancis pada 1803, wilayah ini menggandakan luas AS saat itu.
- Florida caplok dari Spanyol melalui Perjanjian Adams-Onís tahun 1819.
- Texas Awalnya wilayah Meksiko, kemudian bergabung dengan AS pada 1845.
- California kuasai setelah Perang Meksiko–Amerika (1846–1848).
- Alaska beli dari Rusia pada 1867, awalnya anggap pembelian sia-sia.
- Hawaii Kerajaan merdeka yang aneksasi AS pada 1898.
- Puerto Rico kuasai setelah Perang Spanyol–Amerika tahun 1898.
- Guam Juga hasil perang dengan Spanyol dan hingga kini menjadi pangkalan militer strategis.
Pola pencaplokan ini menunjukkan bahwa AS kerap tertarik pada wilayah yang memiliki nilai strategis, militer, dan ekonomi, terutama terkait jalur perdagangan, sumber daya alam, dan pertahanan.
Greenland: Ambisi Baru atau Sekadar Isu Politik?
Greenland menjadi sorotan setelah muncul pernyataan dan laporan bahwa AS pernah mempertimbangkan untuk membelinya. Wilayah terbesar di dunia ini memiliki posisi strategis di kawasan Arktik, kaya sumber daya alam seperti mineral langka, serta penting dalam konteks pertahanan global.
Secara historis, AS memang sudah memiliki kehadiran militer di Greenland melalui pangkalan udara Thule. Selain itu, mencairnya es di Arktik akibat perubahan iklim membuat wilayah ini semakin bernilai secara ekonomi dan geopolitik.
Namun, berbeda dengan pencaplokan di masa lalu, konteks dunia saat ini jauh lebih kompleks. Greenland memiliki pemerintahan sendiri dan berada di bawah kedaulatan Denmark. Upaya pencaplokan atau pembelian secara sepihak akan memicu reaksi internasional dan konflik diplomatik serius.
Meski begitu, ketertarikan AS terhadap Greenland menunjukkan pola lama yang masih relevan: mengamankan wilayah strategis demi kepentingan nasional. Apakah Greenland benar-benar akan menjadi target berikutnya? Untuk saat ini, kemungkinan tersebut lebih tepat disebut sebagai manuver politik dan strategi pengaruh, bukan pencaplokan langsung.
