Jakarta, WartaTerupdate.Com – Greenland memiliki sejarah panjang dan kompleks yang memikat perhatian dunia dari masa dulu hingga kini. Pulau terbesar di dunia ini tidak hanya kenal sebagai hamparan es di Kutub Utara, tetapi juga sebagai saksi perjalanan manusia sejak ribuan tahun lalu.
Manusia pertama yang ketahui menetap di Greenland berasal dari budaya Saqqaq sekitar 4.500 tahun lalu. Ikuti oleh berbagai kelompok seperti Dorset dan akhirnya orang Thule, nenek moyang Inuit modern yang datang dari Siberia melalui Selat Bering. Mayoritas penduduk Greenland saat ini adalah Inuit, dengan budaya yang kuat dan adaptasi hidup di lingkungan Arktik yang keras.
Sekitar akhir abad ke-10, Viking dari Norwegia dan Islandia, pimpin oleh Erik the Red, tiba di pulau ini. Ia kemudian menamainya Grœnland atau “tanah hijau” untuk menarik pemukim, merujuk pada area pesisir yang relatif hijau. Pemukiman Norse ini bertahan berabad-abad sebelum akhirnya menghilang pada abad ke-15.
Jejak Eropa kembali muncul pada abad ke-18 ketika pendeta Norwegia Hans Egede tiba dan memulai misi religius sekaligus jalur kolonial Denmark. Yang kemudian mengokohkan kendali Denmark atas Greenland. Pada 1953 Greenland resmi menjadi wilayah bagian dari Kerajaan Denmark. Kemudian mendapat pemerintahan sendiri lewat undang-undang otonomi pada 1979 dan perluas pada 2009.
Di era modern, Greenland kembali jadi sorotan global karena ketertarikan Donald Trump. Yang menyuarakan kemungkinan akuisisi pulau tersebut untuk alasan strategis dan keamanan nasional. Pernyataan Trump ini memicu diskusi politik dan reaksi kuat dari pemerintah Denmark dan rakyat Greenland yang menegaskan bahwa “Greenland bukan untuk jual.”
Sejarah Greenland dari masa Inuit, Viking, kolonisasi Eropa sampai geostrategi abad ke-21 menggambarkan dinamika budaya. Identitas, dan politik yang terus berkembang di panggung internasional.
