Meski Bersitegang Jepang Siap Berunding Dengan China Kata PM

Meski Bersitegang Jepang Siap Berunding Dengan China Kata PM

Jakarta, WartaTerupdate.comPerdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan bahwa Tokyo tetap membuka pintu dialog dengan China, meskipun hubungan kedua negara tengah mengalami ketegangan diplomatik. Pernyataan ini sampaikan dalam konferensi pers di Tokyo pada 17 Desember 2025, di tengah kondisi hubungan yang tegang karena isu‑isu strategis seperti Taiwan.

Ketegangan Tokyo–Beijing Memuncak

Hubungan Jepang dan China meningkat tegang setelah komentar Takaichi sebelumnya mengenai kemungkinan keterlibatan militer. Jepang jika China melakukan serangan terhadap Taiwan — sebuah wilayah yang klaim Beijing sebagai bagian dari kedaulatannya. Beijing kemudian bereaksi keras terhadap pernyataan itu, termasuk melalui kritik diplomatik dan penurunan interaksi resmi tingkat tinggi, seperti laporan bahwa pejabat China membatalkan rencana pertemuan dengan PM Jepang di forum internasional. Namun demikian, Takaichi tetap menegaskan bahwa ketegangan tersebut tidak mengubah komitmen Tokyo untuk berdialog dan membangun hubungan yang stabil dengan negara tetangga besarnya.

“China Adalah Tetangga Penting”

Dalam pernyataannya, PM Takaichi menyebut China sebagai “tetangga penting” dan menekankan bahwa kedua negara memiliki berbagai isu yang perlu selesaikan melalui komunikasi dan diplomasi. Ia menjelaskan bahwa sejak menjabat. Kebijakan Jepang tentang hubungan bilateral tidak berubah: Jepang selalu terbuka untuk dialog meskipun ada perbedaan pandangan.

“Jepang selalu membuka pintu dialog karena kedua negara memiliki sejumlah isu yang perlu selesaikan,” ujar Takaichi.

Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa Tokyo ingin tetap menjaga saluran komunikasi terbuka, terutama untuk mencegah salah paham di masa depan serta mengelola potensi konflik yang lebih besar.

Upaya Membangun Hubungan Konstruktif

Meskipun ada gesekan, sikap Jepang ini bukan tanpa dasar. Tokyo menyadari perlunya hubungan yang konstruktif dan stabil dengan China, baik dari sisi keamanan regional maupun aspek ekonomi dan perdagangan. China tetap menjadi salah satu mitra dagang utama Jepang, sehingga dialog tetap menjadi alat diplomasi penting.

Di sisi lain, Beijing meminta Jepang untuk lebih berhati‑hati dalam pernyataan yang menyangkut Taiwan isu sensitif yang merupakan salah satu akar ketegangan bilateral. Pemerintah China menilai beberapa komentar Tokyo sebagai campur tangan dalam urusan internalnya dan memberi tekanan diplomatik sebagai respons.

Dampak pada Hubungan Regional

Ketegangan yang terjadi turut menarik perhatian negara lain di kawasan Asia Pasifik. Mengingat peran strategis Jepang dan China dalam keamanan dan stabilitas regional. Banyak analis melihat bahwa tetap terbukanya dialog akan membantu mengurangi risiko eskalasi konflik. Terbuka serta memberi ruang bagi kerja sama di bidang ekonomi dan isu global lainnya.

Meskipun hubungan Jepang–China berada di bawah tekanan diplomatik akibat pernyataan dan penafsiran berbeda atas isu. Taiwan, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa Tokyo tetap terbuka untuk dialog. Sikap ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya komunikasi konstruktif dan hubungan stabil di kawasan, kendati perbedaan pandangan tetap ada.